BERINTRAKSI DENGAN LGBT

“ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh,” (Albert Einstein).

LGBTG, atau yang dulu dikenal dan femiliar dengan istilah “lesbian, gay, biseksual, dan transgender.”  terlepas dari pro dan kontra apakah LGBT termasuk penyakit jiwa atau bukan termasuk penyakit jiwa. Secara emosional, saya memandang itu adalah sebuah “kecendrungan.” Dan analisa saya, kecendrungan selalu diliputi oleh tiga faktor, yakni : faktor lingkungan, faktor pengetahuan, faktor genetik.

Tiga faktor itulah yang mempengaruhi sepak terjang manusia. bahkan menjadi faktor kedalaman ideologi. Kenapa larinya ke ideologi?, Karena kedalaman ideologi dapat menjadi kendali yang mampu melahirkan kesadaran sosial.

Saya jadi ingat komentar teman saya almarhum Taharman dalam dialog di kantor The Habibie Center Jakarta Selatan tahun 2001 salam, saat Studi Tour Santri Pondok Pesantren Persis Abu Hurairah Sapeken angkatan ke 21. Taharaman menyampaikan bahwa “Agama itu dari bahasa sansekerta. A, artinya : tidak. “Gama” artinya kacau. Jadi agama artinya : tidak kacau. Oleh sebab itu, barangkali bangsa indonesia ini akan dibuat kacau dengan terlebih dahulu mengacak-ngacak ajaran-ajaran agama bangsanya. Agama yang menjadi sistem nilai sosial yang adil dan beradab. Senada dengan itu, lbert Einstein, seorang ilmuwan Yahudi pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh.”

Terminologi agama terhadap iman sebetulnya meliputi dan meniscayakan keterlibatan tiga hal di atas. yang saya anggap sebagai faktor lahirnya “kecendrungan” yang menyimpang dan pembengkakan jumlah LGBT di sekitar kita.

1). Faktor Lingkungan
Teman, termasuk di antara variabel analisa aspek lingkungan sebagai faktor lahirnya kecendrungan, itulah sebabnya Rasulullah bersabda :

????? ??? ??? ????? ?????? ????? ?? ????????

Artinya : “Agama seseorang adalah sebagaimana agama teman duduknya. Maka perhatikanlah teman duduknya.”

Hadits ini menghendaki agar kita berhati- hati dalam memilih teman. Parameter kehati hatian itu adalah agama. maka pilihlah teman yang dapat memperkuat keiman sebagai insan yang beragama.

Disinyalir juga bahwa :

?????? ?????? ?? ???? ????? ??? ???? ???? ????.

Artinya : “teman yang sholeh adalah yang dapat menuntun kamu menjadi ta’atan kepada Allah ta’ala.”

2). Faktar Pengetahuan.
Dari segi aspek pengetahuin sebagai faktor yang mampu menopang kecendeungan untuk tetap berada dalam koridor yang baik dan benar, Allah berfirman :

??????????????? ??? ????????? ?????????? ??????? ???? ????? ????? ????? ???????? ? ????? ?????????? ?????? ?????? ????????????

Artinya :
“Dan mereka yang dalam ilmunya akan berkata, kami telah meyakini semua yang datang dari sisi tuhan kami, Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS. Al Imran : 7).

3). Faktor Genetik
Adapun dari aspek genetik masih debatebel. Walaupun disinyalir bahwa :

?????? ?????? ??? ????? ????

Artinya : “Pilihlah air mani salah satu dari kalian, maka sesungguhny gen itu mempengaruhi.”

Jauh sebelumnya Rasulullah menginformasikan agar kita merencanakan generasi dengan memeprhatikan “air mani” sebagai simbol, dan cikal bakal kualitas generasi yang akan dilahirkan sebagai penerus. Akan tetapi ada kemungkinan seorang keluar dari jalur gen nya. Artinya, seorang anak dapat menjadi lebih pintar dan lebih sholeh dari orang tuanya atau sebaliknya dapat pula menjadi lebih bodoh dan lebih bejat dari kedua orang tuanya. Semua juga tergantung dari lingkungan atau pergaulannya.

Maka sesungguhnya intraksi – intraksi sosial kita termasuk dengan LGBT adalah intraksi iman yang menghendaki lebih kepada upaya antisipatif dengan pendekatan :
Saling menasehati dengan kasih sayang (??????? ?????????)
Saling menasehati dalam kebenaran (??????? ??????)
Saling menasehati dengan kesabaran (??????? ???????)

Kemudian dengan tiga pendekatan dalam Al qur’an Surah An-Hal ayat 125 :

“????? ????? ??????? ??????? ????????????? ??????????????? ??????????? ????????????? ????????? ???? ???????? ????? ??????? ???? ???????? ?????? ????? ???? ????????? ?????? ???????? ????????????????

Terjemahan bebasnya kira-kira begini :
“Serulah mereka, (lanjutkan usahamu untuk menyeru semua yang engkau sanggup seru, dengan ucapan yang baik atau perbuatan yang patut ditiru), kepada jalan yang ditunjukkanTuhanmu, yakni ajaran Islam, dengan hikmah dan pengajaran atau pelajaran yang baik dan berdialoglah dengan mereka, (siapa pun yang menolak atau meragukan ajaran Islam), dengan cara yang terbaik.

Itulah tiga cara berdakwah yang seyogyanya dapat ditempuh dengan berdialog yang baik bersama manusia yang beraneka ragam latar belakang dan kecenderungannya. Dan serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah karena sesungguhnya Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu Dia-lah sendiri yang lebih mengetahui dari siapa pun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah saja jugayang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk.”

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, manusia itu ada dua :
Pertama : jika engakau melihatnya hatimu tergerak untuk melakukan kebaikan.
kedua : jika engaku melihatnya hatimu tergerak untuk melakukan kejelekan. Semoga kita termasuk orang yang terus berupaya untuk menjadi orang yang kalau oranh lain melihat kita maka hati orang akan tergerak untuk bethobat dan melakukan kebaikan. Aamiin..

Allahua’lam bishshowab.

#catatan menembus malam dari Malang Menuju Banyuwangi.

Oleh. Abu Rahmat.